Ngawen — Sebanyak 2.000 ekor bibit ayam Jowo Super (Joper)
resmi ditebar perdana di kandang milik BUMKal Bangkit Karya Mandiri, Kalurahan
Kampung, Kapanewon Ngawen, Senin (20/4). Kegiatan yang didanai Dana Desa Tahun
Anggaran 2025 ini menjadi bagian dari program ketahanan pangan kalurahan
sekaligus wujud kolaborasi antara pemerintah kalurahan, Jawatan Kemakmuran
Kapanewon Ngawen, Pendamping Desa, dan Pendamping Lokal Desa.
Sinergi Lintas Pihak Sejak Perencanaan
Ketua BUMKal Bangkit karya Mandri Kalurahan Kampung Hardono,
dalam sambutannya, menyebut program ayam joper ini bukan kegiatan instan.
Prosesnya dimulai sejak Musyawarah Kalurahan akhir 2025 lalu. “Warga
mengusulkan usaha produktif yang cepat menghasilkan dan bisa menyerap tenaga
kerja. Setelah dikaji bersama Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa,
diputuskan ayam joper yang paling cocok karena masa panen 70 hari dan pasarnya
jelas,” ujarnya. Pendamping Desa Kapanewon Ngawen yang ikut mendampingi
menjelaskan, peran pendamping adalah memastikan usulan warga sesuai regulasi
dan layak secara bisnis. “Kami bantu hitung analisa usaha, cek RAB di
SISKEUDES, sampai pastikan SOP kandang dan pakan sudah ada. Jangan sampai Dana
Desa keluar tapi pengelolaannya tidak siap,” katanya. Sementara Pendamping
Lokal Desa (PLD) Kalurahan Kampung bertugas mengawal harian. Mulai dari
memfasilitasi pembentukan tim pengelola di bawah BUMKal, mendampingi pelatihan
teknis budidaya ke peternak lokal, hingga memastikan pembangunan kandang sesuai
spesifikasi. “Tiap minggu kami cek progres. Kalau ada kendala langsung dibahas
bareng pamong dan BUMKal,” ungkap Eko Widodo PLD yang setiap hari berkantor di
balai kalurahan. Jawatan Kemakmuran Kapanewon Ngawen juga turun langsung.
Selain memberi rekomendasi teknis soal kelayakan kandang dan sanitasi, Jawatan
Kemakmuran ikut menghubungkan BUMKal dengan dinas terkait untuk akses vaksin
dan pasar. “Ini contoh ketahanan pangan yang ideal. Ada BUMKal sebagai
pelaksana, kalurahan sebagai pemilik, kapanewon sebagai pembina, dan pendamping
sebagai pengawal aturan,” jelas Tri Hartono perwakilan Jawatan Kemakmuran.
Detail Program: Dari Hulu ke Hilir
BUMKal Bangkit Karya Mandiri dipilih sebagai pengelola
karena sudah berstatus “Berkembang” dan memiliki unit usaha pertenakan.
Direktur BUMKal Hardono menjelaskan, 2.000 DOC joper tahap pertama ini
ditempatkan di kandang seluas 200 m² di Padukuhan Kalitekuk. “Target panen 70
hari dengan bobot 0,9-1 kg per ekor. Kalau harga stabil Rp35.000/kg, omzet
kotor bisa Rp63 juta - Rp70 juta per siklus. Setelah dipotong pakan, bibit, dan
operasional, laba bersihnya untuk PADes dan pengembangan usaha,” paparnya
BUMKal berencana menggandeng kelompok PKK dan Karang Taruna untuk olahan ayam,
seperti ayam ungkep frozen dan bakso agar
nilai tambah lebih besar. Warga yang ingin jadi mitra pemeliharaan juga sudah
mulai didata, dan juga SPPG di wilayah kapanewon Ngawen
Peran Sentral Pendamping Desa dan PLD
Keberhasilan penaburan perdana ini tidak lepas dari
pendampingan intensif. Pendamping Desa memastikan seluruh dokumen perencanaan,
mulai dari usulan musrenbang, RKP, APBKal, sampai laporan di OM-SPAN, sinkron
dan akuntabel. “Kalau administrasi beres, risiko jadi temuan inspektorat bisa
ditekan,” tegasnya.Di tingkat kalurahan, PLD jadi “penjaga gawang” harian. Ia
memastikan RAB tidak mark-up, bibit ayam datang sesuai spesifikasi, dan TPK
BUMKal mencatat semua pengeluaran di buku kas. “Pendamping tidak boleh
cawe-cawe keputusan, tapi wajib meluruskan kalau ada yang menyimpang dari
aturan,” kata PLD. Model kolaborasi ini yang ingin direplikasi ke kalurahan
lain. Tri Hartono dari jawatan kemakmuran kapanwon Ngawen yang hadir dalam
kegiatan menyebut, BUMKal Kampung bisa jadi pilot project ketahanan pangan
berbasis unggas di Ngawen. “Kuncinya ada di pendampingan. Selama PD dan PLD
aktif, kalurahan berani eksekusi program inovatif,” ucapnya.
Harapan untuk Kemandirian Pangan
Program ayam joper BUMKal Bangkit Karya Mandiri ditargetkan
bisa 4 kali siklus dalam setahun. Jika berjalan lancar, selain menambah PADes,
program ini akan menyerap tenaga kerja
tetap dari warga setempat dan menstabilkan harga ayam di wilayah Ngawen.“Ini
baru tahap pertama. Target kami, tahun depan BUMKal sudah bisa scaling ke 5.000
ekor per siklus dan punya kandang pembesaran di tiap padukuhan,” tutup Lurah
Kampung.Dengan dikawalnya program ini oleh Pendamping Desa dan Pendamping Lokal
Desa sejak hulu, Kalurahan Kampung berharap ketahanan pangan tidak lagi sekadar
slogan, tapi benar-benar jadi penggerak ekonomi warga.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar